LANGKAH KEBENARAN
MENUJU ALAM CAHAYA TERTINGGI
PENDAHULUAN
Tuhan
Yang Mahakuasa menciptakan seluruh makhluk-Nya, khususnya manusia, diberikan akal pikir dan nurani. Dimana kedua hal itu seharusnya dapat dipergunakan untuk
menuntun dirinya sendiri dalam menapaki langkah-langkah menuju Jalan Kebenaran,
sehingga mencapai Kemuliaan Yang Sempurna di dalam hidup.
Akal
pikir dan nurani dapat membantu manusia itu mencapai kehidupan yang lebih baik,
bukan saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Permasalahan yang ada, bahwa
apabila hanya mengandalkan diri sendiri, sebagian besar manusia tidak bisa
memaksimalkan akal pikir, apalagi dapat menghidupkan hati nurani. Tetap
diperlukan salah seorang manusia yang telah diberikan kemampuan, untuk
membimbing manusia lainnya menemukan Langkah Kebenaran.
Menemukan
seorang manusia yang telah ditunjuk langsung oleh Yang Mahakuasa, harus dengan
memiliki tekad dan usaha yang gigih. Menemukan manusia yang menjadi perwakilan
di dunia, tidaklah semudah menemukan seorang manusia yang secara pandangan
manusia biasa dianggap memiliki kemampuan, tetapi sebenarnya adalah semu dan
sebuah bulatan besar tanpa isi.
Manusia-manusia yang tampil saat ini, karena merekalah yang mengangkat diri
sendiri, begitu banyak dan mudah ditemukan, karena mereka tersebar dan berlomba
mendapatkan manusia lainnya, dengan segala kemanisan rupa dan tutur kata yang
dipoles dengan kepalsuan sempurna.
Menemukan manusia yang mampu membimbing dan menghantarkannya melalui
Langkah Kebenaran itu, memerlukan usaha keras dan tekad yang membara dan tidak
semua manusia akan mendapatkan karunia itu hingga bisa menemuinya. Karena
apabila seorang manusia dapat bertemu dengan Manusia Terpilih itu, maka itu
sama artinya telah menemukan sebuah kesempatan dan anugerah besar bagi diri
manusia itu, yang akan menghantarkannya dalam Langkah-langkah Kebenaran, hingga
dirinya bisa mencapai Alam Cahaya Yang Tertinggi.
Langkah Kebenaran yang bisa saja merupakan kesempatan sekali yang akan
datang dalam hidupmu dan tidak akan kamu dapatkan kembali. Hanya
manusia-manusia yang memiliki kesungguhan, tekad dan keyakinan, yang
benar-benar datang dari dalam diri, yang akan bisa menemukan Manusia Terpilih
itu, yang akan menghantarkanmu mencapai kemuliaan dan kesempurnaan hidup.
Hanya Manusia Terpilih yang berhak menentukan apakah manusia lainnya bisa
mendapatkan bimbingan, arahan dan tuntunan dalam panduan langkah ini atau
tidak. Karena melihat dan menilai secara langsung kepada individu yang ada
tersebut.
Jadi,
hanya manusia yang telah memohon dengan kesungguhan kepada Yang Mahakuasa dan
menampilkan kesungguhan dan tekad kepada Manusia Terpilih itu, yang akan
mendapatkan bimbingan menuju Langkah Kebenaran secara sempurna, hingga
benar-benar bisa mencapai Alam Cahaya Yang Tertinggi.
BAB I
PENGENALAN TENTANG INDIVIDU MANUSIA
Manusia merupakan salah satu makhluk hidup dari begitu banyak makhluk ciptaan dari Yang
Mahakuasa. Secara fisik, apa yang terdapat pada manusia, hampir sama dengan
yang terdapat pada makhluk lainnya, walaupun ada beberapa hal yang berbeda.
Sejak pertama kali keberadaan manusia yang hidup di
dunia, terus mengalami perkembangan hingga saat ini. Sejak pertama kali
keberadaan manusia itu pula, sebenarnya Yang Mahakuasa telah memberikan
bimbingan dan arahan tertentu, tentang apa yang harus diraih dan dilakukan
dalam hidupnya.
Manusia
diberikan akal pikir, agar secara
fisik dapat belajar dan memperoleh pengetahuan dari alam, lingkungan dan
manusia lainnya, dalam rangka mencapai keberhasilan hidup di dunia.
Yang
Mahakuasa pun memberikan nurani,
agar manusia itu dapat memperoleh pula pengetahuan untuk kehidupannya di
akhirat.
Apabila
seorang manusia dapat menggabungkan ke-mampuan fisik berupa akal pikir, dengan
batin berupa nurani, maka dirinya akan tampil menjadi manusia sempurna yang
akan memperoleh keberhasilan dan kemuliaan hidup, dunia akhirat. Tetapi,
fenomena yang terjadi adalah, jangankan untuk mencapai kesempurnaan dunia
akhirat, untuk mencapai kemuliaan di dunia saja, manusia itu tidak mampu. Akal
pikir mereka dimatisurikan oleh nafsu yang berlebihan dan keinginan
yang tidak terkontrol terhadap sesuatu yang sebenarnya di luar kemampuan
mereka.
Tuhan Yang Mahakuasa tidak pernah pilih kasih dalam
memberikan rezeki dan nikmat kepada setiap makhluk-Nya. Kalaupun kenyataan yang ada memperlihatkan,
ada sebagian manusia yang berhasil dan ada yang tidak, itu pun merupakan bukti
dari adanya keadilan dan keseimbangan dari Yang Mahakuasa. Karena, apabila
ditarik sebuah benang merah antara kehidupan manusia saat itu dengan kehidupan
sebelumnya, maka akan ditemukan sebuah pengetahuan mengenai alasan dan penyebab
keberadaan mereka saat ini.
Bila
Yang Mahakuasa menghendaki, bahwa semua manusia akan berhasil, kaya raya, maka
hal itu adalah merupakan hal yang mudah. Tetapi, apabila kehidupan di dunia, semua
manusia sempurna dan tanpa kekurangan, justru akan menyebabkan kesengsaraan
pula bagi manusia-manusia itu, karena tidak berfungsinya hukum keseimbangan dan
keadilan yang semestinya ada.
Sebagai
permisalan, apabila seorang manusia memiliki harta kekayaan melimpah, maka
tidak ada satu manusia pun yang hendak bersusah payah menyiapkan pangan,
merawat ternak, bekerja dan melakukan kegiatan apa pun, yang lambat laun justru
akan menyebabkan musnahnya manusia dari dunia.
Manusia
memerlukan pemenuhan terhadap kebutuhan hidupnya yang berupa pangan, sandang
dan tempat tinggal. Yang untuk mendapatkannya, memerlukan bantuan dari manusia
lain.
Semua
manusia bisa saja menjadi kaya, memiliki harta melimpah, tetapi apa gunanya
bila tidak ada sesuatu yang didapatkannya untuk makan, minum ataupun memenuhi
kebutuhan lainnya. Yang terjadi kemudian, justru penderitaan dan kesengsaraan
bagi semua manusia itu. Disanalah terlihat betapa peran penting dari hukum
keseimbangan dan keadilan, harus tetap
berjalan.
Seorang
manusia yang memiliki akal pikir, seharusnya dapat memahami akan pentingnya
hukum keseimbangan itu, sehingga masing-masing dapat memainkan peranan di dunia
sebaik mungkin. Karena mereka akan menyadari, bahwa antara manusia yang satu
dengan manusia lainnya saling membutuhkan, siapa pun dirinya, tanpa terkecuali.
Demikian
pula yang terjadi dalam kehidupan batin seorang manusia. Jika Yang Mahakuasa
menghendaki, maka berimanlah semua manusia itu, tanpa terkecuali. Dan itu akan
terjadi dalam waktu sekejap saja, karena tiada yang mustahil bagi Pemilik Alam
Semesta. Tetapi, manusia yang terjadi pada saat ini, tergolong ke dalam
beberapa bagian kepercayaan yang membedakan manusia yang satu dengan yang
lainnya.
Golongan-golongan
yang disebut sebagai agama tertentu. Istilah atau sebutan yang berbeda, yang
ada dalam setiap agama, sebenarnya merupakan sesuatu yang bersifat fisik saja
dan bukan merupakan suatu barometer bagi kesempurnaan manusia di dalamnya.
Agama dapat diartikan sebagai suatu wadah yang
diharapkan mempertemukan dan menyatukan manusia-manusia dalam rangka mencapai
kehidupan di akhirat dengan baik.
Melalui
agama yang dijalankan dengan bimbingan sempurna, sebenarnya dapat meraih
kehidupan dunia dan akhirat sekaligus. Kehidupan dunia yang didapat dari semua
agama adalah, bagaimana bersikap kasih, berbuat baik, saling menghormati dan
mematuhi peraturan tertentu sebagai aturan main dalam kehidupan dunia. Apabila
dalam agama-agama tersebut terdapat seorang manusia yang benar-benar mampu membimbing
manusia lainnya mencapai kehidupan bertuhan yang benar, maka dapat
menghantarkan manusia-manusia itu untuk mendapatkan tempat yang baik di akhirat
kelak.
Apabila
manusia telah mampu memiliki pengetahuan tentang pengetahuan bertuhan yang
benar, maka yang diharapkan adalah mereka jadi saling memahami, bahwa tujuan
yang dicapai adalah sama, hanya berbeda dari arah jalan yang hendak dituju dan
fasilitas yang dipergunakan. Tetapi sayangnya, kehidupan bertuhan yang
seharusnya didapatkan dalam semua agama, justru mengaburkan tentang konsep kebenaran
bertuhan dan membuat manusia-manusia yang terbagi dalam agama-agama itu, justru
menyibukkan diri untuk membangun pagar-pagar yang memisahkan mereka, satu
dengan yang lainnya.
Pagar-pagar
pemisah yang dibangun mengelilingi
bangunan keangkuhan yang digerakan dan dihembuskan kencang-kencang oleh
salah satu dari setiap agama itu, yang justru berasal dari salah seorang
manusia yang dianggap menguasai dan memiliki pengetahuan bertuhan yang
tertinggi. Ditambahkan dengan motivasi
dan kepentingan pribadi yang selalu berhitung dan mengukur dengan nilai
tertentu, semakin menjadikan agama-agama itu sebagai bangunan yang justru
menjauhkan dari tujuan semula dan menjadikannya tempat sempurna yang berisi
kepalsuan.
Keadaan
seperti itu terus menerus berkembang kepada manusia, turun-menurun. Semakin
lama, semua manusia semakin terhanyut oleh arus ketidakpastian dan kesalahan
yang diagungkan.
Hilanglah
sudah konsep kehidupan bertuhan yang sebenarnya. Yang terjadi adalah permunculan
dari bangunan-bangunan megah dan imitasi, yang dibangun di atas pondasi pamrih
tertentu, menggunakan dinding-dinding keangkuhan, tiang-tiang kepalsuan, dengan
beratapkan doktrinasi tentang kebenaran yang dimiliki sendiri.
Dipoles
dengan kebutaan dan ketulian terhadap kebenaran itu sendiri. Kemudian
ditambahkan dengan tanaman-tanaman yang menghasilkan buah yang pahit dan tidak
bisa dirasakan oleh manusia lainnya. Ada pula tanaman lainnya yang menghasilkan
buah yang manis, tetapi memabukan dan penuh dengan duri.
Bangunan
kepalsuan itu pun, disempurnakan oleh pagar-pagar kedengkian, merasa yang
paling benar. Pagar kedengkian yang menjulang tinggi itu, masih ditambahkan
pula dengan kawat-kawat kemunafikan yang berduri.
Itu
merupakan sebagian gambaran yang bila manusia
jujur terhadap dirinya sendiri, disadari atau tidak, baik yang terlihat
ataupun tersembunyi, seperti itulah kenyataannya.
Hal ini
bukanlah menggambarkan, bahwa semua agama tidak baik. Pada dasarnya,
agama-agama itu dibuat oleh seorang manusia yang memang diutus oleh Yang
Mahakuasa. Pada awalnya, para Utusan itu menghadirkan konsep yang sempurna
tentang kehidupan bertuhan. Mereka pun menanamkan kebaikan kepada manusia di
dalamnya, tanpa memikirkan suatu kepentingan terhadap diri mereka sendiri.
Tetapi setelah semua Utusan itu telah tiada, maka manusia-manusia yang muncul
ke permukaan, yang memproklamirkan diri sebagai pusat pengetahuan dari
masing-masing agama, memasukan konsep yang salah. Ditambah dengan memberikan
doktrinasi yang menjauhkan manusia dari kedamaian dan kerukunan secara fisik.
Seorang
pemuka agama atau apa pun sebutannya, yang sama sekali tidak memiliki keinginan
dari dalam diri untuk membimbing dan menyelamatkan manusia-manusia lainnya
dengan kesungguhan hati. Mereka tidak berjuang dengan sepenuh hati, bagaimana
nasib manusia-manusia ditangannya, baik dalam kehidupan dunia, apalagi akhirat.
Mereka
memang membicarakan sesuatu hal yang terlihat baik dan menyenangkan. Dan mereka
pun selalu mengulang hal yang sama, setiap kali mereka bicara. Mereka tidak
bisa memperjuangkan agar manusia-manusia lain di dalam golongannya, benar-benar
bisa mendapatkan kebaikan hidup dunia akhirat, dikarenakan mereka sendiri
melakukan semua upaya kebaikan itu demi nilai tertentu.
Mereka
sibuk mengejar target, berlomba mempermanis kata, pada akhirnya untuk
kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak memahami, betapa kedahagaan
manusia-manusia pada umumnya akan suatu kebenaran dan kedamaian dengan manusia
lainnya, dari mana pun mereka berasal.
Mereka semua mengatakan, bahwa Tuhan Yang Mahakuasa
itu hanya Satu. Tetapi mereka mempersalahkan cara dan langkah yang ditempuh
oleh golongan lainnya.
Kedua hal itu merupakan dua pendapat yang berseberangan dan
tidak membersitkan suatu kebenaran yang pasti. Apabila setiap agama mengakui,
bahwa Tuhan Yang Mahakuasa itu adalah satu, maka seharusnya mereka menyadari,
bahwa kebenaran yang ada itu pun bersumber kepada satu Tuhan.
Seperti halnya keberadaan Tuhan Yang Mahakuasa yang pasti
ada-Nya, maka begitu pun dengan Kebenaran Sesungguhnya. Karena kebenaran yang
berasal dari Tuhan Yang Mahakuasa, akan mampu menyentuh dan merengkuh semua
manusia dengan hakikatnya sebagai manusia, bukan berdasarkan golongan, tempat mereka berada.
Tuhan
Yang Mahakuasa hanyalah satu. Tetapi hendak-nya diingat, bahwa Utusan dari Yang
Mahakuasa itu, tidaklah satu. Para Utusan-utusan dari Yang Mahakuasa itu diberikan
mandat dan kemampuan untuk membimbing manusia-manusia yang berbeda. Baik dari
latar belakang, kondisi kehidupan dan faktor-faktor lainnya, yang tentunya akan
memerlukan suatu cara atau ketentuan yang berbeda pula, yang disesuaikan dengan
manusia-manusia yang akan dibimbingnya.
Hal itulah yang menyebabkan, mengapa tata cara, peraturan
dari masing-masing agama terlihat berbeda. Karena apa yang didapatkan dari
masing-masing agama itu, berasal dari Utusan yang berbeda, yang diberikan tugas
untuk menyampaikan kebenaran dengan metode yang bisa jadi berbeda.
Metode adalah merupakan bagian dari suatu proses. Jadi
sangat wajar apabila terjadi perbedaan dalam proses itu, karena yang terpenting
adalah hasil akhir yang hendak dicapai dan menjadi tujuan dari proses tersebut
dilakukan.
Bila seorang manusia mengesampingkan ego dan keterbatasan
fisik sebagai manusianya, kemudian bertanya ke dalam diri, pastilah akan
membenarkan dan memahami, mengapa terjadi perbedaan cara yang dilakukan dalam
masing-masing agama.
Manusia sebagai makhluk individual, terbagi menjadi dua,
yaitu; terdiri dari tubuh fisik dan non fisik. Secara fisik, tubuh
manusia terdiri dari :
Ø
Bulu,
Ø
Kulit,
Ø
Daging,
Ø
Otot,
Ø
Tulang,
Ø
Sumsum,
Ø
Syaraf,
Ø
Darah.
Apa pun organ tubuh manusia yang ada secara fisik
pada bagian luar dan dalam, maka sebenarnya merupakan perpaduan dari
komponen-komponen di atas. Satu atau lebih komponen di atas, dapat berpadu
membentuk suatu organ tubuh
tertentu. Secara non fisik, tubuh manusia terdiri dari;
Ø
Pikiran,
Ø
Keinginan,
Ø
Nafsu,
Ø
Keyakinan,
Ø
Jiwa,
Ø
Rasa,
Ø
Cahaya,
Ø
Hati
Nurani.
Kemudian,
organ-organ dan bagian tubuh yang ada akan saling berkoordinasi untuk
menjalankan fungsi tubuh tertentu. Apabila koordinasi dari organ-organ tubuh
yang ada tidak berjalan baik, maka manusia itu tidak akan dapat beraktivitas
dengan sempurna.
Dengan
adanya koordinasi tubuh yang baik itu, maka manusia dapat beraktivitas
sehari-hari untuk mencapai tujuan hidupnya. Bagi manusia, dapat mencapai apa
yang menjadi tujuan hidupnya, berarti merupakan suatu barometer penilaian bagi
keberhasilan dirinya dalam kehidupan di dunia. Oleh karena itu, seorang manusia
harus selalu menjaga dan mempertahankan kestabilan dari koordinasi tubuhnya
dengan melakukan upaya secara lahir dan batin.
Selama
ini, manusia menjaga semua itu dengan melakukan secara fisik, antara lain:
makan makanan yang sehat, berolah raga ataupun hal lainnya, yang umumnya
diketahui manusia.
Sangat penting sekali bagi setiap manusia, untuk
selalu beraktivitas di dalam hidupnya, demi untuk mencapai pemenuhan kebutuhan
hidup, juga untuk mendapatkan kebahagiaan secara fisik lainnya.
Selama
ini manusia menjaga apa yang telah didapatkannya hanya secara fisik. Tidak
semua menyadari, bahwa apa yang terjadi pada fisiknya, dapat dipengaruhi pula
oleh apa yang dilakukannya secara batin. Setiap manusia mengindikasikan, bahwa
usaha yang dilakukan secara batin adalah berdo’a. Dengan berdo’a mereka
mengharapkan, bahwa apa yang menjadi keinginan dan tujuan dalam hidupnya bisa
didapatkan.
Hal itu
memang benar, bahwa sebagai seorang manusia, untuk mendapatkan segala sesuatu,
selain bekerja keras dan melakukan usaha secara maksimal, juga diperlukan
kepasrahan dan menyampaikan permohonan itu kepada Yang Mahakuasa.
Berdo’a
memang merupakan suatu bentuk komunikasi antara diri dengan Yang Mahakuasa.
Tetapi selama ini, pengetahuan dan pemahaman manusia mengenai hubungan antara
diri dengan Yang Mahakuasa, masihlah terbatas dan bahkan sebagian tidak
memahami apa maknanya. Apabila seorang manusia tidak memahami makna dari
berdo’a itu, maka bagaimana bisa dirinya mengetahui, bahwa do’a tersebut telah
sampai dan dikabulkan oleh Yang Mahakuasa.
Bagaimana sebuah keinginan
yang diwujudkan dalam do’a bisa terwujud, sangat dipengaruhi oleh cara yang
dilakukan dalam berdo’a tersebut. Dapat diibaratkan, seorang manusia hendak
mengirim surat yang berisi permintaan tertentu kepada seorang manusia lainnya,
tanpa mengetahui apa yang hendak ditulis, bagaimana cara menulisnya, siapa yang
menjadi tujuan surat tersebut dan dimana keberadaan orang itu, serta
bagaimanakah mengetahui apakah surat itu telah sampai dan mendapatkan
balasannya.
Apabila seorang manusia tidak
mampu memberi jawaban atas semua pertanyaan itu ketika dirinya sedang berdo’a,
maka dapat dipastikan, bahwa dirinya tidak akan memperoleh kepastian tentang
terwujudnya sesuatu yang menjadi keinginannya.
Berdo’a itu pun memiliki cara dan
teknik tersendiri yang bisa menghantarkan langsung kepada Yang Mahakuasa. Kalaupun selama ini seorang manusia
berpikir, bahwa telah menerima suatu karunia atau nikmat tertentu, hal itu
adalah merupakan suatu bentuk anugerah yang bersifat umum, yang diberikan oleh
Yang Mahakuasa kepada seluruh manusia. Tetapi ada hal-hal khusus ataupun
permintaan tertentu, yang hanya dengan kehendak Yang Mahakuasa langsung kepada
diri manusia itu, baru dapat terwujud.
Pengetahuan mengenai cara
menyampaikan do’a itu langsung kepada Yang Mahakuasa pun, masihlah sangat terbatas
manusia yang mampu melakukannya. Kemampuan itu pun, bukanlah merupakan
kemampuan umum yang dimiliki oleh semua manusia. Karena seorang manusia yang
mampu membimbing dan mengarahkan manusia lainnya di dalam menyampaikan
permohonannya kepada Yang Mahakuasa, maka sesungguhnya, pada saat itu, manusia
yang membimbing, telah membuka jalur hubungan langsung antara manusia yang
berdo’a itu, dengan Yang Mahakuasa.
Dengan dibukanya jalur yang
menghubungkan langsung antara manusia itu dengan Yang Mahakuasa, maka semakin
memperbesar peluang do’a itu tersampaikan dan akan diwujudkan oleh Yang
Mahakuasa.
Saat ini bertanyalah kepada
dirimu dan jawablah dengan jujur, apakah
telah ada salah seorang diantaramu yang dianggap sebagai manusia yang memiliki
pengetahuan dan kemampuan lebih, telah dapat membimbingmu, mengarah-kanmu dan
menghubungkanmu langsung dengan Yang Mahakuasa? Jawablah dengan kejujuran
dari dirimu terdalam, bukan dengan jawaban secara fisik.
Seseorang yang memiliki kemampuan
menghubungkan antara manusia yang satu dengan Tuhan Yang Mahakuasa, merupakan
manusia tertentu yang telah secara langsung mendapatkan izin dan petunjuk dari
Yang Mahakuasa, sehingga memperoleh kemampuan tersebut. Karena kemampuan
yang dimiliki oleh manusia itu adalah kemampuan dari Yang Mahakuasa, maka
membukakan jalur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, bukanlah merupakan
suatu hal yang mustahil, tetapi merupakan suatu kepastian dan kebenaran langsung
dari Yang Mahakuasa.
Apabila seorang manusia belum
dapat menjawab semua pertanyaan itu dan tidak menemukan sosok manusia dengan
kemampuan seperti itu, maka segeralah bermohon kepada Yang Mahakuasa untuk
mendapatkan petunjuk tentang berdo’a yang benar, ataupun diberikan petunjuk
yang dapat menghantarkan diri manusia itu bertemu dengan manusia yang diberikan
petunjuk dan dipilih untuk melaksanakan ketentuan itu.
Penjelasan di atas memberikan
pemahaman, bahwa untuk mendapatkan segala sesuatu yang bersifat fisik, tidaklah
cukup dilakukan secara fisik pula, tetapi sangat dipengaruhi oleh kehendak Yang
Mahakuasa dalam mendapatkan tujuannya itu. Dan kemampuan untuk berhubungan
dengan Yang Mahakuasa itu pun, tidaklah bisa dimiliki oleh semua manusia,
walaupun terlihat, sepertinya manusia itu memiliki pengetahuan yang tinggi,
karena pengetahuan secara fisik tidaklah berarti apa-apa tanpa pengetahuan yang
tak terbatas dari Yang Mahakuasa.
Berdasarkan tujuannya, maka apa
pun aktivitas yang dilakukan manusia di dunia, memiliki hal-hal dibawah ini
yang menjadi tujuan pokok, yaitu hendak mendapatkan:
1. Kemakmuran
dari segi kecukupan materi atau disebut juga sebagai kesejahteraan.
2. Kondisi
tubuh yang prima untuk menunjang aktivitas apa pun, disebut sebagai kesehatan.
3. Ketenangan
akan terhindarnya dari segala sesuatu yang tidak diharapkan, yang dapat
merenggut kebahagiaan ataupun memisahkan diri dari orang-orang di sekitar,
yaitu mendapatkan keselamatan.
4. Setelah
kebahagiaan di dunia, maka siapa pun manusianya, berharap mendapatkan
kebahagiaan pula di akhirat, yaitu mendapatkan surga.
Itulah empat tujuan utama yang
diinginkan oleh semua manusia. Dimana, dalam rangka mencapai itu semua, telah
berbagai usaha dan aktivitas dilakukan oleh semua manusia. Jangankan untuk mendapat perwujudan
keempat tujuan itu, untuk bisa mendapatkan salah satu saja, memerlukan suatu
usaha dan langkah yang benar, karena setiap manusia akan dihadapi oleh ujian
atau permasalahan tersendiri.
Itulah penggolongan tujuan
manusia berdasarkan jenisnya, yang akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian
berikutnya.
BAB
II
KEINGINAN DAN HARAPAN MANUSIA
YANG MENJADI
TUJUAN UTAMA
Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam
kehidupan di dunia, setiap manusia melakukan beragam aktivitas. Baik yang
bersifat fisik maupun non fisik, dalam upaya terwujudnya segala sesuatu yang
menjadi keinginan dan harapan dirinya.
Setiap manusia memiliki
kepentingan, harapan, yang porsinya bisa saja berbeda antara manusia yang satu
dengan yang lainnya. Keinginan yang ada di dalam diri manusia antara yang satu
dengan yang lainnya, walaupun mengacu kepada satu hal, tetapi dengan nilai yang
berbeda.
Memiliki sesuatu yang berharga bagi satu manusia, bisa
jadi merupakan suatu hal yang biasa saja bagi manusia lainnya. Hal ini
dipengaruhi oleh kondisi fisik manusia itu sendiri, yang menyangkut; latar
belakang kehidupan, tingkat pendidikan, intelektual, kekayaan yang dimiliki,
keadaan fisiknya pada saat itu, ideologi yang dianut dan hal lainnya, yang
membedakan keadaan manusia yang satu dengan yang lainnya.
Walaupun kelihatannya keinginan
antara manusia yang satu dan manusia lainnya berbeda, akan tetapi, bila
dipahami secara mendalam, akan dapat disimpulkan suatu persamaan tujuan, yang
merupakan perwujudan dari semua keinginan manusia, yang sebenarnya hanya
berbeda dari sudut pandang dan penilaian, terhadap apa yang menjadi
keinginannya tersebut.
Berikut ini beberapa contoh
penggambaran dari keinginan manusia yang kelihatannya berbeda, tetapi pada
hakikatnya memiliki tujuan yang sama.
1. Penilaian kesejahteraan dari latar belakang
kehidupan yang berbeda.
Seorang manusia A berkeinginan,
apabila memiliki uang dalam jumlah besar, maka akan dibelikannya rumah sebagai
tempat tinggal ataupun disimpan untuk diambil kelebihan dari nominal yang
disimpannya.
Tetapi manusia B memiliki
keinginan, apabila memiliki sejumlah uang, maka akan dipergunakannya untuk
melakukan usaha tertentu yang bisa melipatgandakan dari jumlah yang ia
pergunakan sebelumnya.
Gambaran di atas, bahwa setiap
manusia memiliki pendapat yang berbeda untuk menilai arti kesejahteraan bagi
dirinya.
2.
Penilaian
kesehatan dari manusia yang memiliki kekayaan berbeda.
Manusia A berkeinginan untuk
mendapatkan kesehatan itu adalah ketika sakit memiliki uang untuk memeriksakan
diri dan dapat mengkonsumsi makanan yang cukup baik setiap hari.
Sedangkan menurut manusia B, penilaian
terhadap kesehatannya adalah dengan melakukan check up secara rutin,
baik dalam kondisi sehat ataupun sakit, serta melakukan seluruh aktivitas yang
menunjang kesehatan itu dan menjauhi segala kemungkinan hal-hal yang dapat
mengganggu kesehatannya.
3. Penilaian-penilaian untuk mencapai
kebahagiaan di akhirat, berdasarkan tingkat intelektual yang berbeda.
Seorang manusia yang memiliki
intelektual standar, akan menjalani kehidupannya dengan standar yang ada dan
melaksanakan kegiatan normatif, baik dalam kehidupan sehari-hari yang
menyangkut kegiatan beribadah ataupun hal lainnya.
Dalam segi ibadah, manusia itu
hanya akan menjalankan sesuai dengan apa yang diketahuinya, tanpa memiliki
suatu keingintahuan dan mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya. Karena
selain keterbatasan intelektual itu, juga dikarenakan kurang motivasi dari
dalam dirinya untuk mencari kebenaran itu sendiri.
Sedangkan manusia yang
memiliki intelektual tinggi, akan cenderung bersifat ingin tahu dan mencari
pembuktian atas segala sesuatu yang didapatkannya, termasuk yang berhubungan
dengan kegiatan ibadah.
Walaupun dirinya berasal dari
suatu golongan tertentu, tetapi sewaktu-waktu akan timbul suatu keingintahuan
yang harus terpenuhi, sebagai pemantap dirinya dalam melakukan apa yang
diyakininya selama ini. Mereka yang berintelektual tinggi, akan memiliki sikap
lebih terbuka dalam menerima dan mencerna segala sesuatu dalam rangka mencapai
kebenaran itu.
Setiap manusia akan mendapatkan
segala sesuatu yang diinginkannya, sesuai dengan apa yang telah diusahakannya.
Sebagai contoh, seorang manusia yang bekerja dengan keras untuk mendapatkan
sesuatu, maka akan mendapatkan hasil yang lebih banyak dari manusia lainnya
yang hanya melakukan usaha secara biasa saja.
Hal ini pun berkaitan erat dengan
apa yang akan didapatkan manusia berdasarkan tekad, usaha keras dan juga
keyakinan yang dimilikinya, untuk bisa mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan
secara sempurna di dunia dan di akhirat.
Anugerah itu pun tidak akan
datang kepada manusia-manusia, yang tidak memiliki kesadaran akan berharganya sesuatu
di dalam kehidupannya.
![]() |
Sebuah
pengetahuan kebenaran bertuhan, haruslah bersifat logis dan praktis. Bersifat logis artinya, bahwa
pengetahuan kebenaran bertuhan itu dapat diterima secara akal pikir dan hati
nurani, serta dapat dibuktikan kebenarannya.
Sedangkan
pengetahuan kebenaran bertuhan yang bersifat praktis, maka berarti pengetahuan
tersebut dapat diterima dan dilakukan oleh siapa pun tanpa terkecuali, dengan
melalui sebuah langkah-langkah sistematis yang mengarah kepada tujuan yang
diharapkan.
Pengetahuan secara teori
memang diperlukan, tetapi akan menjadi sesuatu yang tidak berguna, apabila
pengetahuan tersebut tetaplah merupakan sebuah teori saja, tanpa diketahui
bagaimana cara melakukannya ataupun bagaimana cara untuk mencapai apa yang
ditetapkan dalam teori tersebut.
Setiap agama
pada dasarnya mengajarkan tentang kehidupan bertuhan. Kehidupan bertuhan itu
akan menjadi sebuah pengetahuan bertuhan yang benar, apabila memiliki landasan
berpikir dengan konsep dasar yang benar, langkah-langkah sistematis dengan
metode tertentu untuk mencapai suatu tujuan akhir, dengan menghasilkan sebuah
kepastian yang dapat dibuktikan kebenarannya dan dapat dilakukan oleh siapa
pun.
Apabila diamati, maka sebagian dari agama dan kepercayaan yang ada saat ini, ada yang tidak
memiliki teori atau landasan berpikir yang jelas. Bahkan tidak tertulis
berdasarkan sebuah wahyu langsung dari Yang Mahakuasa, tetapi merupakan sebuah
perkiraan ataupun pemahaman yang sudah melalui sebuah proses campur tangan dari
pemikiran manusia itu sendiri. Sehingga teori yang berkembang dan landasan
berpikir yang digunakan adalah bukan murni merupakan pengetahuan bertuhan yang
sesungguhnya, tetapi merupakan hasil persepsi sebatas pengetahuan manusia itu
yang memberikan.
Sebagian agama dan
kepercayaan lain yang telah memiliki sebuah teori dan landasan berpikir yang
baik, yang bisa jadi secara tersirat telah menyampaikan apa yang menjadi tujuan
akhir yang hendak dicapai oleh manusia di dalamnya, tetapi tidak disampaikan
dengan baik oleh para manusia-manusia yang dianggap memiliki pengetahuan lebih
tinggi dibandingkan yang lainnya, di dalam agama dan kepercayaan itu. Hal itu
dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia-manusia yang
dihormati dan dituakan di dalam agama dan kepercayaan itu. Dan juga
dikarenakan, memang tidak adanya panduan ataupun arahan secara praktis yang
lengkap dan jelas di dalam agama dan kepercayaan itu, kepada manusia-manusia di
dalamnya. Sehingga, yang berkembang adalah suatu agama dan kepercayaan yang
bersifat tradisi, yang menjalankan segala sesuatu berdasarkan kebiasaan hidup
yang diberikan turun-temurun, tanpa memberikan kesempatan berpikir kepada para
manusia di dalamnya dan mereka hanya menghabiskan sebagian waktu hidup mereka
untuk memahami suatu pengetahuan yang berputar-putar saja, tanpa mendapatkan
suatu kepastian tentang apa sesungguhnya yang hendak dicapai.
Apabila ditanyakan
kepada mereka, mengapa mereka berada di dalam suatu agama atau kepercayaan
tertentu? Maka secara sederhana mereka akan menjawab, bahwasanya mereka
berada di dalam suatu agama dan kepercayaan tertentu adalah untuk mencapai
ketenangan hidup di dunia dan memperoleh surga di akhirat kelak.
Itu adalah jawaban yang hampir dikatakan oleh semua
manusia, karena memang merupakan tujuan hidup manusia pada dasarnya. Tetapi
pertanyaannya adalah, apakah setelah sekian lama mereka berada di dalam
suatu agama dan kepercayaan tertentu, serta menjalankan segala peraturan dan
tata tertib yang ditetapkan di dalam agama dan kepercayaan masing-masing, telah
mendapatkan suatu kepastian, akan mendapatkan surga setelah kematian datang
kepada mereka?
Apakah ada sebuah jaminan atau
kepastian dari manusia-manusia yang dianggap sebagai perpanjangan tangan dari
Tuhan pada setiap agama dan kepercayaan itu, kepada para manusia-manusia di
dalamnya, bahwa kelak mereka akan mendapatkan kemuliaan, baik di dunia maupun
di akhirat?
Apabila hal itu
ditanyakan kepada manusia-manusia yang berada di dalam semua agama dan
kepercayaan, baik bagi manusia yang dianggap sebagai pemukanya ataupun golongan
biasa, maka dapat dipastikan, sebagian besar dari mereka tidak mengetahui apa
pun dan hanya dapat memberikan sebuah jawaban klise, bahwa mereka akan
mendapatkan semua itu dan akan mengetahuinya setelah kematian datang, karena
surga itu berada setelah kematian.
Dikatakan, hampir sebagian besar dari mereka tidak
mengetahui, karena memang, tetap tidak bisa diabaikan, bahwa ada sebagian dari
mereka, dengan segala ketekunan dan karunia dari Yang Mahakuasa, dapat
memperoleh tentang kepastian kehidupan setelah kematian itu, tetapi mereka yang
masuk ke dalam golongan manusia beruntung itu, hanya bisa mencapai ke surga itu
untuk diri mereka sendiri.
Apabila manusia yang bisa mendapatkan surga untuk diri
mereka sendiri saja begitu sedikit jumlahnya, apalagi manusia yang dapat
menghantarkan dan membimbing manusia lainnya, hingga benar-benar mencapai
kepada surga.
Itulah kenyataan yang ada. Dan setiap manusia, secara
jujur di dalam diri masing-masing, pastilah ada sebuah kebimbangan dan dahaga
akan pengetahuan kebenaran bertuhan yang sesungguhnya, yang harus mereka jalani
untuk mencapai tujuan akhir yang diharapkan setiap manusia.
Sebagian besar manusia menutupi kejujuran itu dengan
ego masing-masing, karena mereka takut bila manusia lainnya mengetahui akan
keterbatasan pengetahuan yang dimiliki. Sehingga, mereka berusaha menampilkan
sosok yang sempurna, dengan pengetahuan yang begitu banyak, tetapi sebenarnya,
mereka pun tengah kebingungan dan jauh di dalam diri mereka, terdapat
kekhawatiran dan ketakutan tersendiri tentang kehidupan yang akan mereka
dapatkan.
Sebagian manusia lainnya telah berhasil
mengesampingkan sebagian ego yang mereka miliki, sehingga mereka mulai mencari
untuk bisa mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran bertuhan dari segala
sumber. Manusia-manusia seperti itulah yang memerlukan pertolongan dan
bimbingan dari tangan yang tepat. Karena sesungguhnya, manusia seperti itulah
yang memiliki tekad, keinginan dan motivasi yang tinggi, dalam rangka
memperbaiki diri dan berusaha untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran
bertuhan itu.
Mereka mencari di tengah rasa kejenuhan dan
kebimbangan yang terus melanda mereka selama ini. Mereka mulai menyadari, bahwa
seperti ada ruang kosong di dalam diri mereka yang belum tersentuh dan tidak
bisa terisi oleh apa pun yang telah mereka pelajari selama ini.
Di tengah derasnya hujan pengetahuan dari para pemuka
agama dan kepercayaan masing-masing, tetapi justru mereka merasakan sebuah
kehampaan dan kesunyian yang tidak dapat digambarkan oleh apa pun.
Mereka pun menjadi bingung dan berusaha untuk
menemukan jawaban dari apa yang mereka rasakan itu. Sebenarnya, hal itu
merupakan suatu awal kebangkitan diri, yang mulai dahaga mencari kebenaran.
Sebuah diri yang terkunci di dalam diri, yang mulai berusaha untuk bisa bangkit
keluar dan menemukan kebenaran sesungguhnya, untuk mem-bimbing diri mencapai
tujuan akhir yang diharapkan.
Sebuah pemahaman yang tidak cukup untuk dicerna oleh
pikiran saja, karena keterbatasannya sebagai fisik manusia dan sudah terlalu
dipenuhi oleh berbagai kekotoran duniawi, baik yang dimasuki oleh diri sendiri,
maupun dimasuki oleh orang lain yang justru dianggap dihormati.
Manusia-manusia yang merasakan kehampaan itu dan
berusaha menemukan jawabannya, maka mereka telah melakukan segala upaya dan
menemui siapa pun yang mereka anggap dapat memberikan suatu jawaban yang
memuaskan dan mengarahkan mereka untuk mendapatkan isi yang dapat memenuhi dan
menepis kehampaan di dalam diri mereka.
Tetapi, lagi-lagi, sekelompok manusia yang
mem-promosikan diri dengan berbagai teknik mampu memberikan yang terbaik, telah
memasang sebuah perangkap yang memasukan manusia-manusia yang dalam kebimbangan
itu menjadi lebih terperosok.
Mereka memasang sebuah perangkap yang dikemas
sedemikian apik dan mengesankan, dengan menampilkan menu-menu khusus yang
diolah sedemikian rupa, sehingga merupakan suatu hal baru yang memang merupakan
sebuah jalan keluar bagi manusia lainnya.
Manusia-manusia seperti itu berlomba-lomba untuk
membuka sebuah tempat ataupun produk tertentu kepada manusia lainnya, yang
dikemas dengan ide masing-masing, dengan tujuan menarik manusia lainnya
sebanyak mungkin, untuk masuk ke dalamnya. Ada yang terkesan tanpa pamrih dan
ikhlas ingin membantu, tetapi ketika manusia lainnya datang, mereka hanya
diberikan menu yang manis sesaat, tetapi tidak dapat memenuhi dahaga mereka
yang sebenarnya. Bahkan mereka tidak mendapatkan sedikit pun pengetahuan yang
berharga, yang dapat menuntun mereka kepada suatu kepastian.
Ada manusia-manusia lainnya yang lebih terbuka dan
dengan terang-terangan, mereka memasang tarif tertentu untuk masing-masing menu
yang mereka tawarkan. Mulai dari menu sederhana, hingga menu kelas tinggi. Dari
harga dan nilai beberapa lembar, hingga nilai yang membuat mata terbelalak.
Manusia-manusia yang memasang nilai dengan harga
memukau dan menghabiskan isi kantong dalam sekejap, beralasan, bahwa
pengetahuan itu adalah sesuatu yang mahal. Sehingga, semakin mahal nilai dari
barang yang ditawarkan, maka semakin berhargalah barang tersebut.
Karena begitu dahaganya manusia-manusia dengan
pengetahuan kebenaran bertuhan itu, maka begitu banyak manusia yang masuk dalam
perangkap itu. Mereka tidak menyadari, bahwa mereka telah masuk perangkap yang
telah dikemas sedemikian rupa, sehingga menyilaukan mata dan memberi kesan
sesuatu yang mewah, spiritualis dan exclusive menurut pandangan umum
manusia. Manusia-manusia yang telah masuk ke dalam perangkap itu sama sekali
tidak menyadarinya, bahkan mereka dengan bangga, masuk ke dalamnya.
Karena manusia sebagai makhluk sosialis yang saling
berhubungan dengan didasari oleh egoisme yang tinggi, maka manusia-manusia
lainnya secara sadar pula, berlomba-lomba memasuki perangkap-perangkap yang
ada. Manusia itu, satu dengan yang lainnya, saling membanggakan diri dan
menganggap semua itu menjadi sebuah tren hidup yang tumbuh subur bagaikan jamur
di musim hujan.
Semakin banyak manusia yang masuk dalam sebuah perangkap,
maka manusia lainnya menilai, semakin bagus perangkap itu. Semakin mahal
nilainya untuk masuk ke dalam perangkap itu, maka semakin tinggi pengetahuan
yang ditawarkan di dalam perangkap itu. Semakin banyak manusia yang
terperangkap di dalamnya, maka semakin gemuklah manusia yang memasang perangkap
itu.
Mengapa dikatakan sebagai perangkap. Apakah hal itu
tidak merupakan sesuatu yang terdengar ekstrim?
Sebutan sebagai perangkap itu, merupakan kenyataan apa
adanya, karena begitu banyak manusia yang terperosok masuk ke dalamnya. Manusia
yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, bahkan biaya yang begitu besar,
dengan harapan mendapatkan sesuatu yang berharga, tetapi kenyataannya tidak
mendapatkan apa pun.
Yang harus diingat adalah, bahwa
tujuan utama manusia dalam dahaganya itu adalah menemukan suatu kepastian
tentang kebenaran bertuhan, yang artinya, harus bisa menghantarkan manusia
kepada suatu kepastian tentang kehidupan, baik di dunia, apalagi di akhirat.
Kepastian itu haruslah bisa menghantarkan manusia benar-benar mencapai tempat
yang bercahaya, yang menjadi tujuan dari setiap manusia.
Bila secara jujur ditanyakan ke
dalam hati, terutama kepada manusia yang pernah memasuki perangkap itu tanpa
menyadarinya, apakah kamu semua mendapatkan sebuah bimbingan dan memperoleh
sebuah kepastian dengan disertakan jaminan, tentang keadaan kehidupan kamu di
akhirat kelak? Apakah seseorang yang telah menuntunmu ke dalam perangkap itu,
dapat memberimu kepastian, bahwa kamu akan memperoleh surga kelak?
Bila jawaban mereka yang menuntunmu itu mengata-kan,
bahwa surga itu akan didapatkan nanti setelah kematian datang, sedangkan
sewaktu hidup di dunia yang penting adalah berusaha dan menjalani saja, karena
kepastian itu akan datang nanti. Apabila tidak ada satu jawaban yang pasti dan
hanya berputar-putar saja dari mereka yang telah menuntunmu, maka pastikan
dalam dirimu, bahwa mereka adalah pembohong
besar. Kalau diri mereka yang menuntunmu saja tidak
mengetahui, bagaimana kehidupannya setelah kematian nanti, bagaimana mungkin
mereka bisa membantumu untuk mencapai kebenaran bertuhan itu dan memastikan
dirimu mencapai surga, sedangkan dirinya sendiri belum tentu bisa mencapainya.
Ingatlah!!! Bahwa kebenaran, apalagi merupakan kebenaran bertuhan, haruslah
bersifat Pasti! Pasti dalam langkah-langkah untuk mencapainya dan pasti pula
untuk mendapatkannya!
Segeralah keluar dari perangkap itu. Janganlah
membuang waktu, tenaga, pikiran, apalagi materimu untuk mengejar dan
mendapatkan sesuatu yang hanya membuatmu sebagai sapi perahan saja.
Kamu adalah manusia yang diberikan kesempurnaan hidup,
yang hanya memerlukan sentuhan tangan orang yang tepat untuk menampilkannya.
Kamu adalah manusia, sesosok makhluk yang diberikan kelebihan akal pikir dan
nurani, untuk menilai sesuatu yang membawa kebaikan dan kebenaran bagimu.
Mulailah mencari kebenaran atas apa yang telah kamu
lakukan selama ini, dengan kecerdasan lahir dan batinmu. Mulailah jujur pada
diri sendiri, agar dirimu segera terbebas dari segala kepalsuan dan kemanisan
yang ditawarkan dan membelenggumu selama ini, agar dirimu dapat segera
menikmati kebebasan, untuk mencapai dan mendapatkan pengetahuan tentang
kebenaran bertuhan yang sesungguhnya.
Jangan bertanya dengan fisikmu, apalagi dengan orang
lain yang sama tidak tahunya denganmu.
Pengetahuan tentang kebenaran bertuhan merupakan
hubungan pribadi antara personal setiap manusia dengan Yang Mahakuasa, oleh
karenanya, temukanlah jawabannya dengan melepaskan segala egomu sebagai manusia
secara fisik dan mendekatlah kepada Yang Mahakuasa di dalam keheningan.
Bulatkan tekadmu, yakin dan
pasrahlah dengan segala kesungguhanmu, maka kebenaran Tuhan akan menyentuhmu
dan menghantarkanmu kepada seorang manusia yang dapat membimbingmu pada jalan
kebenaran, hingga mencapai suatu kepastian akan kehidupan dunia akhirat.
Seorang manusia yang terpilih, yang dipilih bukan
karena manusia lainnya ataupun mengangkat dirinya sendiri. Tetapi seorang
manusia yang memang diberikan kemampuan langsung oleh Yang Mahakuasa dan para
Utusan-Nya Yang Mulia, untuk dapat menyampaikan kebenaran kepada semua manusia.
Jangan goyahkan tekadmu karena apa pun. Ujian dan
cobaan dalam kehidupanmu pun, ada saatnya mudah, ada saatnya terasa berat.
Apalagi ujian atau cobaan yang akan mengarahkanmu kepada sebuah hal besar. Hal
yang tidak ternilai oleh apa pun, karena merupakan Tujuan Mulia dan Tertinggi
setiap manusia.
Bila kamu telah siap mengosongkan diri dengan
melepaskan segala keegoisan dan atribut keduniawianmu, maka bersiaplah untuk
menemukan kebenaran itu, karena yakin akan segera menghampirimu. Tetapi,
apabila dirimu masih diliputi oleh keterbatasan fisikmu, egomu dan segala
pikiran, kebimbangan dan perbandingan semu di dalam dirimu, maka lupakanlah
harapanmu untuk dapat menemukan kebenaran itu dan tetaplah berada dalam
perangkap itu untuk waktu yang tak terbatas dan berbahagialah dengan apa yang
kamu dapatkan, karena bisa jadi, itulah bagianmu.
Kebenaran bertuhan itu memang suatu yang pasti dan
berasal dari Yang Mahakuasa, tetapi untuk mendapatkannya, selain merupakan
anugerah, juga merupakan buah dari hasil tekad dan keyakinan dari manusia itu
sendiri. Maka kembali kepada dirimu sebagai manusia pada umumnya, akan termasuk
ke dalam manusia manakah dirimu, apakah menjadi manusia yang bisa mengosongkan
diri secara totalitas untuk mendapatkan kebenaran sejati, ataukah tetap
tenggelam dalam pengetahuan dan kesempurnaan semu yang telah kamu dapatkan?
Apa pun jawaban yang kamu pilih, maka tetaplah
saling menghargai. Tetapi satu hal yang harus diingat oleh setiap manusia
adalah :
“KEBENARAN TIDAK PERNAH MENCARI MANUSIA,
TETAPI MANUSIALAH YANG MENCARI KEBENARAN.
DAN TUHAN TIDAK MEMBUTUHKAN MANUSIA, TETAPI MANUSIALAH YANG MEMBUTUHKAN
TUHAN.”
BAB III
MENAPAKI
LANGKAH KEBENARAN
Setelah
mendapatkan pemahaman tentang pengetahuan kebenaran bertuhan yang sesungguhnya
dengan realita yang ada, maka diharapkan adanya sebuah pemahaman yang benar
kepada semua manusia, untuk memperbaiki pola pikir dan konsep selama ini yang
ada di dalam diri.
Memahami dan menerima sebuah konsep kebenaran yang
sesungguhnya, yang bisa jadi merupakan sebuah fenomena baru bagi sebagian
manusia, memanglah memerlukan waktu dan proses untuk mendapatkannya.
Proses
yang dialami oleh setiap manusia dalam mencapai kebenaran itu, tentulah
beragam. Hal ini dipengaruhi dari mana manusia itu berasal, jalan mana yang
telah ditempuh, dan juga faktor fisik lainnya, seperti latar belakang
kehidupan, tingkat sosial, maupun tingkat intelektual dari manusia itu. Tetapi,
hal itu bukanlah merupakan suatu penghalang dalam melangkah untuk mencapai
kebenaran. Bukan pula menjadi penentu keberhasilan bagi setiap manusia untuk
bisa mendapatkan kebenaran itu. Karena kondisi di atas merupakan atribut secara
fisik yang memang dimiliki oleh setiap manusia dan bukan merupakan sebuah
penilaian akhir atas keberhasilan seorang manusia, untuk bisa mulai menapaki
Langkah Kebenaran. Karena, Langkah Kebenaran yang dilalui oleh manusia, merupakan
sebuah langkah, antara diri seorang makhluk dengan Yang Mahakuasa.
Sebuah Langkah Kebenaran menuju jalan kepastian dalam
mencapai pengetahuan sejati, yang hanya bisa dicapai oleh seorang manusia yang
memiliki kebulatan tekad, keyakinan dan kepasrahan, serta bimbingan seorang
manusia lainnya yang benar-benar telah mendapatkan petunjuk dan kemampuan untuk
melakukannya.
Seorang manusia yang tidak memerlukan penilaian tertentu
ataupun pamrih dalam bentuk apa pun, yang akan menghantarkan dan membimbing
manusia lainnya mencapai kebenaran bertuhan itu. Karena, Manusia Terpilih itu
merupakan Utusan dari Yang Mahakuasa, maka tidak memerlukan penilaian,
penghargaan, apalagi pamrih dari manusia lainnya, yang pada dasarnya tidaklah
memiliki apa pun. Karena, manusia itu hanya mengharapkan segala sesuatunya
langsung dari Yang Mahakuasa.
Seorang manusia
yang dengan tekad yang kuat, mempunyai sebuah tujuan mulia untuk membimbing dan
menghantarkan manusia lainnya di dalam mencapai kebenaran bertuhan, sehingga
bisa mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan hidup di dunia dan akhirat.
Seorang manusia yang mendapatkan bimbingan langsung,
petunjuk, segala kelebihan dari Yang Mahakuasa dan melalui Utusan-Nya Yang
Mulia, sehingga dapat membimbing setiap manusia tanpa membedakan latar
belakang, agama dan kepercayaannya, status sosial, intelektual, ataupun
perbedaan lainnya yang dinilai manusia secara fisik. Itulah sebenar-benarnya
seorang pembimbing kepada jalan kebenaran sesungguhnya.
Seorang
manusia yang mampu menyentuh manusia lainnya tanpa terkecuali dan tidak pernah
membedakan atau menilai apa pun secara fisik, karena yang diberikannya adalah
sebuah Kebenaran Sejati, tentang pengetahuan bertuhan yang sesungguhnya menjadi
tujuan akhir setiap manusia.
Seorang
manusia yang akan memberi kabar baik kepada manusia lainnya, bahwa ditengah
kehampaan dan kepalsuan yang merajalela, terdapat Setitik Cahaya dan secercah
harapan, yang akan mampu merengkuh siapa pun yang memiliki tekad kuat,
keyakinan dan kepasrahan di dalam mencapai dan mencari kebenaran itu.
Manusia
itu bisa jadi tidak mempublikasikan dirinya dimuka umum, tidak berlomba mencari
simpati manusia lainnya dan tidak pula memberitakan sederet kemampuan yang
dimilikinya, karena apa yang disampaikannya merupakan sebuah mutiara yang
sangat berharga, yang hanya pantas dimiliki oleh manusia yang memiliki
kebulatan tekad, keyakinan dan kepasrahan yang sesungguhnya, bukan hanya
sebatas kata saja.
Jadi,
bila kamu berharap menemukannya diantara manusia-manusia yang menawarkan
sesuatu yang dikemas secara berlebihan, maka kamu tidak akan menemukannya.
Karena sebenarnya, mereka semua menawarkan sebuah batu kali, tetapi dikemas,
dipoles dan didesain sedemikian rupa, sehingga karena bentuknya yang besar,
menjadi terlihat begitu berharga dan mampu memberikan sesuatu yang menjadi tujuan
dari manusia lainnya.
Satu mutiara yang sangat berharga, memang kecil
secara bentuknya. Dan untuk bisa mendapatkannya, maka memerlukan sebuah
perjuangan tersendiri.
Semua
kembali kepadamu, wahai manusia. Apakah dirimu akan berlomba-lomba untuk
mendapatkan kemasan yang begitu indah dan besar, tetapi sebenarnya hanya berisi
batu kali. Ataukah kamu berusaha dengan segala kemampuanmu untuk mencapai
setitik cahaya itu, yang berasal dari sebuah mutiara bersinar, yang tidak
pernah padam oleh apa pun dan tidak perlu dipoles dengan apa pun, karena kebenaran
yang terpancar darinya tidak akan lekang oleh waktu, kondisi, dan apa pun yang
ada.
Kesempatan
untuk mendapatkan karunia dan berada di jalan yang benar, terbuka di depan
mata. Tetapi, tidak bisa dilihat oleh pandangan secara fisik, apalagi oleh
mereka yang membutakan mata sendiri, tetapi hanya bisa dilihat oleh kebersihan
hati dan kejernihan akal pikir, serta ketajaman nurani. Sehingga bisa menjadi
ke dalam golongan manusia yang dapat meraih anugerah terbesar dari Yang
Mahakuasa dan selalu berada di jalan kebenaran, menuju kebenaran bertuhan Yang
Mahasempurna.
Sekali lagi, kosongkanlah dirimu secara utuh, berdiamlah
dan mendekatlah kepada Yang Mahakuasa. Kemudian bertanyalah kepada rasa sejatimu,
apakah dirimu akan terus berjalan dan melangkah di atas kepalsuan yang selama
ini kamu lalui? Dan terus tenggelam di dalam ketidakpastian hingga akhir
hayatmu? Ataukah dirimu akan mendapatkan hidayah yang melepaskan segala
keterbatasan fisik, sehingga dirimu dapat mulai melangkah menapaki jalan
kebenaran untuk mencapai pengetahuan kebenaran bertuhan yang sebenar-benarnya?
Berusahalah
dengan segala kemampuanmu untuk dapat menemukan Manusia Terpilih yang memiliki
hak dan wewenang untuk membimbingmu mencapai kebenaran itu.
Berharaplah kebenaran itu dapat kau temukan dan menyatu
dengan Yang Mahakuasa, sebelum kematian datang kepadamu. Karena apabila kamu
belum mencapai kebenaran itu, sementara waktumu telah usai, semua itu akan
menjadi suatu yang sia-sia.
Tanpa kebenaran yang kamu raih, adakah yang mengetahui, bagaimana
kelanjutan hidupmu dan dimanakah kamu berada kelak?

BAB IV
TAHAPAN MENUJU
LANGKAH
KEBENARAN
Setelah penjelasan yang diberikan terdahulu, diharapkan
pada saat ini, manusia-manusia yang telah memahaminya mendapatkan sebuah
wawasan berpikir dan mulai dapat mengasah, untuk mempertajam hati nurani dalam
meraih pengetahuan tentang ketuhanan yang sebenar-benarnya.
Beruntunglah manusia yang setelah mendapatkan pemahaman,
maka dirasakan suatu perubahan dan dorongan kuat dari dalam dirinya, untuk
menemukan kebenaran itu. Dan berharap, dapat pula segera bertemu dengan manusia
yang diberikan petunjuk untuk membimbing, karena berarti pintu hidayah masih
terbuka untuknya. Dengan memiliki bekal pengetahuan ketuhanan yang benar,
ditambah dengan dorongan atau tekad dari dalam diri yang muncul dengan
sendirinya, maka segeralah untuk mulai memikirkan dan merencanakan, upaya apa
yang hendak dilakukan dalam mewujudkan pengetahuan yang didapatkan.
Apabila diri telah mulai bergerak dan melakukan upaya
dengan segala kesungguhan, maka yakinlah, bahwa diri telah selangkah lebih dekat
untuk mulai menapaki Langkah Kebenaran.
Sebuah pengetahuan yang mendalam, sarat dengan hal
berharga dan mengandung nilai kebenaran langsung dari Yang Mahakuasa, akan
menjadi sesuatu yang tidak bisa diambil manfaatnya oleh diri, apabila hanya
sebatas dipahami, sementara diri manusia itu tidak melakukan upaya atau tindakan
apa pun dalam meraihnya.
Dalam melangkah, harus selalu diingat, bahwa Tuhan
Mahaberkehendak atas segala sesuatu, oleh karenanya, selalu berharap dan
berpasrah kepada Tuhan Yang Mahakuasa, agar mendapatkan bimbingan dan kemudahan
dalam menemukan kebenaran itu, untuk mendapatkan tujuan akhir yang menjadi
puncak segala keinginan manusia.
Hanya manusia-manusia yang telah benar-benar memiliki
tekad, keyakinan dan usaha yang sungguh-sungguh, yang berhak untuk mendapatkan
bimbingan dalam melakukan tahapan Langkah-langkah Kebenaran. Hanya
manusia-manusia yang memiliki dorongan dari dalam diri sesungguhnya yang akan
mampu melewati seleksi alam yang terjadi, yang akan memisahkan antara manusia-manusia
yang memiliki kebulatan tekad, dengan manusia yang hanya bersifat ingin tahu,
ataupun sebatas mengikuti yang lain saja, ataupun manusia yang memiliki
keyakinan semu.
Betapa
pun seorang manusia berusaha mengemas diri dengan keyakinan dan tekad semu, dengan
harapan memperoleh pengetahuan ketuhanan yang benar, maka sesungguhnya dirinya
tidak akan mendapat suatu pengetahuan yang berharga sama sekali.
Disadari
atau tidak, kepalsuan dan kesemuan yang masih dipertahankannya itu, justru akan
semakin menjauhkan langkahnya dari jalan kebenaran yang terbentang di depan
mata. Maka mulai dari detik ini, sadarilah dirimu, bahwa termasuk ke dalam
bagian manusia seperti apakah dirimu? Bertanyalah kepada dirimu sendiri, karena
akan kamu temukan jawaban yang jujur.
Apabila
setelah mendapatkan pemahaman tentang pengetahuan ketuhanan yang benar, dirimu
merasakan sesuatu yang merekah di dalam diri, memberikan motivasi dan tekad
yang membara, keyakinan yang teguh, maka hal itu mengindikasikan bahwa dirimu
menjadi salah satu manusia yang mendapatkan anugerah untuk segera berada di
jalan kebenaran dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya.
Hal ini
akan sangat dirasakan berbeda, apabila setelah mendapatkan pemahaman tentang
pengetahuan bertuhan yang benar, tetapi dirimu tidak merasakan getaran apa pun,
kamu tidak bisa melepaskan diri dari belenggu egoisme dan kebanggaan diri yang
semu, maka hal itu berarti, bahwa belum saatnya kebenaran itu menghampirimu
atau kalaupun kebenaran itu telah berada begitu dekatnya dengan dirimu, justru
dirimulah yang disadari atau tidak, menjauhi kebenaran itu.
Sungguh
merupakan sebuah kerugian yang mahabesar, apabila seorang manusia berada di
dalam barisan manusia pada golongan kedua, karena diri manusia itu tidak mengetahui,
kapan lagikah waktunya kesempatan itu akan datang kembali kepadanya?
Kapankah
kebenaran itu akan berada sedemikian dekat dan hampir menyentuh manusia itu,
sementara manusia itu tidak menyadarinya?
Apakah
ketika kesempatan itu datang dan kebenaran menghampiri, masih terdapat waktu
bagi diri manusia itu untuk menapaki jalan kebenaran itu?
Bagaimana
ketika kebenaran itu hampir menyentuhnya, tetapi keberadaannya di dunia telah
habis masanya dan berganti dengan waktu kematian yang mendekat, maka segala
pengetahuan tentang ketuhanan yang benar, yang datang sesudahnya, tidak dapat
memberikan manfaat dan menjadi penolong bagi manusia itu, karena setelah terpisah dari jasad, maka diri
yang sesungguhnya akan berada di alam lain yang bukan merupakan alam bercahaya
yang menjadi tujuan akhir manusia.
Dimana
diri manusia itu berada pada saat itu, hanya Yang Mahakuasa yang mengetahui,
karena dirinya tidak dapat lagi melakukan hubungan dengan manusia lainnya di
dunia.
Betapa pun pintar dirimu tentang
pengetahuan dunia, betapa pun besar materi yang kamu miliki dan betapa banyak
kebaikan duniawi yang kamu tebarkan, maka hal itu tidak akan cukup untuk
menebus kemuliaanmu di akhirat, karena semuanya sama sekali tidak berkaitan
dengan kemuliaan di akhirat. Semua pengetahuan, materi, dan kebaikan yang
bersifat duniawi, hanya merupakan suatu hubungan timbal balik yang akan
dirasakan hasilnya atau akibat dari
semua hal itu, ketika masih berada di dunia pula dan tidak dapat menghantarkan
manusia itu untuk mencapai jalan kebenaran di akhirat.
Kemuliaan di akhirat yang bisa
didapatkan oleh seorang manusia, sangat dipengaruhi oleh keberhasilannya
mendapatkan pengetahuan tentang ketuhanan yang benar. Sebab, hanya hal itulah
yang benar-benar dapat memastikan bahwa seorang manusia itu akan mendapatkan kemuliaan
setelah kematian datang.
Mengapa hanya pengetahuan tentang
ketuhanan yang benar, yang bisa memastikan seorang manusia mendapat kemuliaan
di akhirat?
Hal
ini dikarenakan, ketika kematian datang, maka seorang manusia secara hakikat
akan kembali kepada Yang Mahakuasa dan menyatu dengan-Nya, sehingga tiada
bedalah antara diri manusia yang sesungguhnya itu, yang telah memasuki Samudera
Ketuhanan Yang Mahaluas dan hanya anak kunci yang tepatlah yang dapat membuka
sebuah pintu kebenaran yang hanya dapat dilalui oleh satu jalan dan hanya dapat
dihantarkan pula oleh seorang manusia yang benar-benar telah mendapatkan
petunjuk dan kemampuan Yang Hak mengenai ketuhanan itu.
Langkah-langkah
Kebenaran akan membawamu di atas jalan kebenaran yang akan menuntunmu mencapai
pintu kebenaran, yang hanya bisa dibuka oleh satu anak kunci kebenaran pula.
Satu kunci kebenaran yang tidak dimiliki oleh manusia-manusia pada umumnya,
apalagi yang kemampuannya dinilai oleh dirinya sendiri maupun oleh manusia awam
lainnya. Jangankan memiliki anak kunci kebenaran, mengetahui langkah benar
seperti apakah yang akan membawa ke jalan kebenaran itu saja, mereka tidak
memiliki pengetahuan sedikit pun.
Mereka
pada umumnya merasa telah melangkah di atas suatu jalan dan akan dihadapkan pula
oleh sebuah pintu dan mereka merasa telah memegang kunci untuk membuka pintu
itu. Begitu banyak jalan-jalan yang ada, begitu banyak pula pintu-pintu yang
akan dihadapi oleh manusia-manusia yang dapat mengecoh dan justru semakin
menjauhkan manusia itu pada pintu kebenaran yang sesungguhnya. Karena tidak
mengetahui jalan dan pintu kebenaran manakah yang sesungguhnya harus mereka
capai, maka dapat dipastikan pula, bahwa kunci yang telah mereka pegang saat
ini, merupakan sebuah kunci yang akan menghantarkan mereka kepada sebuah pintu
yang bukan merupakan sebuah pintu kebenaran dan tidak akan pernah menghantarkan
manusia itu untuk mencapai kemuliaan di akhirat, yang berada setelah pintu itu
terbuka.
Bisa
jadi, manusia-manusia itu membawa kunci-kunci yang sesuai untuk membuka pintu
yang tengah mereka tuju selama ini. Dan, bisa pula kunci itu dipergunakan untuk
membuka pintu yang tengah mereka tuju saat ini, tetapi tidak diketahui, pintu
apakah sesungguhnya yang menjadi tujuan mereka. Apakah pintu yang tidak berisi
apa pun di dalamnya, atau justru pintu, pintu-pintu yang akan menghantarkan
mereka kepada tempat yang membawa mereka kepada penderitaan dan kesengsaraan di
akhirat nanti.
Ingatlah!!! Bahwa hanya terdapat
satu pintu kebenaran yang benar-benar dapat menghantarkan manusia memperoleh
kemuliaan dan kebahagiaan dunia - akhirat, yang berarti, hanya ada satu kunci
kebenaran yang dapat membukanya!
Pandai-pandailah
memilah terhadap segala sesuatu yang tampak di depan mata, karena apa pun yang
manusia itu pilih sebagai sebuah keputusan, maka hal itu akan menyangkut dalam
kehidupan panjangnya di alam keabadian setelah kematian ataukah alam lainnya
yang berisi penderitaan untuk waktu yang lama, atau bahkan selamanya. Artinya,
bahwa diri manusia itu sendirilah yang akan merasakan akibat apa pun dari
keputusan yang telah dipilihnya. Oleh karena itu, tidak ada satu manusia pun
yang dapat membantu setelah pilihan itu
dijalaninya.
Ingatlah
wahai manusia! Jangan biarkan dirimu tertipu dan terpengaruh oleh ucapan manis
belaka atau kepalsuan yang tertutupi oleh berbagai hal, dan jangan biarkan
orang lain mempengaruhi kehidupanmu, apalagi membiarkannya menyeret dirimu ke
dalam alam penderitaan yang abadi.
Semua
keputusan ada di tangan setiap manusia, karena pribadi manusia masing-masinglah
yang akan menjalaninya. Kebahagiaan atau penderitaan, kemuliaan atau kehinaan
yang akan di dapat, diri manusia sendiri itulah yang membuat keputusan untuk
nasibnya sendiri.
Selalulah
mendekatkan diri yang benar kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan berharap dengan
tekad dan kepasrahan, dimasukan ke dalam barisan manusia yang akan menuju pintu
kebenaran yang sebenar-benarnya.
Apabila setelah peringatan dan pemahaman ini datang
kepada setiap manusia, tetapi manusia itu mengabaikannya, maka itulah bagian
yang harus diterimanya dan bersiaplah menikmati penderitaan panjang tanpa batas
waktu.
Dan, apabila seorang manusia tersadar dari kesalahan dan kekeliruan jalan yang telah ditempuhnya, serta segera berbalik arah mencari jalan kebenaran, dengan berharap menemukan seorang manusia yang tepat dengan segala kesungguhan dan kerja kerasnya, maka yakin dan bersiaplah menikmati pula kebahagiaan dan kemuliaan di dalam Alam Cahaya Yang Abadi.
Bila seorang manusia telah memiliki pemahaman yang mendalam
mengenai pengetahuan bertuhan, serta memiliki tekad, keyakinan dan kesungguhan
dalam mendapatkannya, maka dirinya berhak mendapatkan bimbingan dari seorang
manusia yang telah ditunjuk oleh Yang Mahakuasa. Seorang manusia itulah yang
akan membimbingnya hingga mencapai tahap, dimana pengetahuan bertuhan itu
menjadi nyata adanya.
Seorang
manusia yang akan membimbing manusia-manusia yang berhak mendapatkan, hingga
menghantarkannya mengalami peristiwa bertuhan yang sesungguhnya, dengan
meleburkan semua hijab dan dinding yang ada, yang selama ini membatasi antara
manusia itu dengan Yang Mahakuasa.
bersambug ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar